Dikenal sebagai surga bawah laut dengan keanekaragaman hayati yang luar biasa, kini keindahan Raja Ampat terancam oleh rencana penambangan nikel di Pulau Kawa—sebuah wilayah yang masuk kawasan konservasi dan sakral bagi masyarakat adat.
Meski sebelumnya Pulau Kawe dinyatakan sebagai zona perlindungan, pemerintah kembali membuka izin tambang kepada perusahaan besar. Ironisnya, keputusan ini muncul di tengah janji pelestarian lingkungan dan pariwisata berkelanjutan.
Perizinan tambang ini jelas berisiko sangat besar, seperti rusaknya hutan, tercemarnya laut, dan terganggunya ekosistem. Terumbu karang yang indah pun tercemar limbah, hutan mangrove bisa hancur, dan masyarakat adat yang menolak tambang terancam kehilangan tanah leluhurnya.
Para aktivis mengecam kebijakan ini dan mempertanyakan komitmen pemerintah terhadap perlindungan lingkungan. Penambangan nikel demi transisi energi seharusnya tidak mengorbankan alam dan komunitas lokal.
Raja Ampat tak sekadar aset pariwisata, melainkan warisan dunia yang harus dijaga dan dilestarikan. Jika terus menukar alam dengan kepentingan sesaat dibanding menjaga menjaga, maka masa depan pun akan hancur pada ketamakan atas lapar kepentingan manusia.
Penulis : Sirajussholihin
Komentar
Posting Komentar